CERPEN
Kenangan Hidup
Malam
penuh bintang bertaburan di langit malam, cahaya sang bulan menerangi setiap
sudut kegelapan, membuat malam yang dingin terasa lebih menenangkan. Tapi semua
itu hanya sementara, ketika awan hitam menutupi itu semua, disertai hujan deras
di seluruh penjuru kota, disertai petir yang mengelegar di sana sini, membuat
hati tenang menjadi tak karuan.
Itulah aku saat itu,
mengingat kembali rasa itu sungguh membuat ku ingin mengakhiri hidup ini, tapi
ku masih bertahan karena sesesorang yang selalu ada di hati ini menerangi jalan
hidup ku.
15 Agustus 2014 saat
ini, tanggal 15 Agustus sungguh bermakna bagiku, penuh kenangan yang
menyedihkan dan membahagiakan.
Flash Back.
15 Agustus 2008
Malam ini adalah malam
ulang tahun ku yang ke 19 tahun, dan lebih bahagianya lagi hari itu bertepatan
dengan pengumuman kelulusanku dari sekolah SMA. Dalam hati ku berfikir malam
ini benar-benar akan menjadi malam yang indah buat ku dan keluargaku. Hari ini
sudah menjelang malam, sekitar jam 18.00 dengan cuaca yang cerah, pas untuk
merayakan sebuah pesta kecil kecilan.
Kami berencana
merayakan itu semua di sebuah restoran yang cukup jauh dari rumah, karena di
sekitar rumah kami tidak ada tempat seperti itu, karena di pinggiran kota,
makanya kami memutuskan kesana walau jauh. Di tengah Kota.
“Ayo kakak.. Adik udah
siap kan? Ibu tungu di mobil ya sama ayah.” Panggil ibu menyuruhku cepat-cepat.
Akhirnya semua sudah berada di dalam mobil dan berangkat menuju tempat itu.
Mereka sangat senang, senyum mereka menjadi kado terindah yang pernah ku
dapatkan, tak ada yang lain. Ku berharap senyum itu dapat kulihat sepanjang
hidupku.
Tapi takdir berkata
tidak, saat di pertengahan menuju restoran mobil yang kami naiki oleng tak
terkendali, sehingga menabarak kendaraan lain dan terjadilah tabarakan
beruntun. Aku sangat terkejut, kecelakaannya benar-benar cepat sekali, tanpa
kusadari semua telah tiada.
Bunyi sirine ambulan
terdengar di telingaku, ku tak percaya apa yang telah terjadi, kulihat dalam
sakitku, ayah, ibu dan adik ku terluka parah sekali, ku ingin melihatnya tapi
ku tak sanggup berdiri, bangkan berbicara pun sulit, dan ku tak sadarkan diri.
22 Agustus 2008, Di
rumah sakit.
Seminngu telah berlalu,
aku koma tak sadarkan diri. Hingga hari ke 8 ku tersadar bahwa semuanya telah
tiada. Beberapa hari kemudian ku dikatakan sudah sembuh dari kecelakaan itu,
dan diizinkan pulang. Tapi yang belum sembuh adalah mentalku dan persaan ku
ini. Entah keajaiban apa yang membuatku hidup seperti ini.
Akhirnya pun aku sampai
di rumah, di antar oleh sahabat ayah ku, Om Budi dan anaknya Rani. Saat itu ku
masih terdiam dan terdiam dalam tangisku, kulihat Rani membantuku menuju
kamarku. Ku ingin mengucapkan terima kasih pada Rani dan Om Budi, tapi mulut
ini tak kuasa untuk menyampaikannya.
Saat ini ku benar-benar
depresi, keluargaku satu-satunya telah tiada. Karena tak ada saudara lain, ayah
dan ibuku adalah anak tunggal di keluarganya, dan juga kakek nenek ku telah
meninggal semua. Tak ada lagi yang bisa membantuku, tapi ku beruntung masih ada
Om Budi yang seperti saudara sendiri. Tempat tinggal mereka pun tidak jauh dari
rumah ku.
Dia yang membayar semua
biaya rumah sakit dan pemakaman keluarga ku. Rani yang selalu menemaniku saat
di rumah sakit, walau ku belum tersadarkan. Hingga di rumah pun mereka masih
memperhatikan aku.
Ku semakin tak kuasa
melihat itu semua, kehilangan keluarga dan menjadi beban bagi orang lain, ku
tak mau itu. Beberapa hari ku mengurung diri di kamar. Tak mau ada yang
menggangguku saat ini.
Hingga suatu hari Rani mencoba
berbicara pada ku, mencoba membujukku untuk ke luar dari kamar dan menjalani
hidup selayaknya. Rani terus saja berbicara hingga ada suatu kata yang membuat
ku sedikit mendapatkan cahaya kehidupan.
“Dhan.. Jalan hidupmu
masih panjang, jangan pernah kamu sia-sia kan hidupmu hanya untuk meratapi
semua yang sudah terjadi. Tak ada gunanya kamu terus mengurung diri seperti
ini. Ayah, Ibu dan Adik mu pasti tak menginginkan semua ini, mereka akan sedih
di sana, mereka tidak akan tenang jika kamu terus seperti ini. Begitu juga
dengan Aku, Ayah dan Ibuku, kita semua jadi khawatir dan sedih melihatmu.”
Panjang lebar Rani membujukku, tapi kata-kata itulah yang mengena di hatiku.
Aku pun bangkit dari kamar tidur dan mencoba untuk membuka pintu kamar. Setelah
kubuka.
Pluk.. Rani memelukku
erat, sambil meneteskan air matanya. Ku hanya bisa berdiam diri melihatnya. Ku
sedikit mulai tersadar, bahwa masih ada yang memperdulikan aku. Saat itu juga
ku mulai menyesali apa yang kulakukan selama ini. Ku peluk erat juga Rani dan
menetes lah air mata ku yang selama ini tak pernah menetes karena saking
menyakitkan kejadian itu. Ku menjadi tenang dan dalam hati ku berkata, ku akan
melanjutkan hidup ini.
“Maafkan aku Rani..
maafkan aku…” kataku pada Rani.
3 September 2008.
Beberapa hari kemudian,
ku sudah sedikit terbiasa dengan kejadian itu dan mulai menjalani hidup ini
seperti biasa. Bertepatan dengan adanya perndaftaran mahasiswa baru di sebuah
Universitas. Sebenarnya ku tak ingin tapi karena Rani yang mengajakku, jadi ku
daftar juga bersama Rani.
“Dhan.. sudah kau bawa
semuakan persyaratan daftarnya?” Tanya Rani penuh semngat.
“Iya iya sudah ku bawa
kok, fuh..” jawab ku dengan malasnya. Tanpa membuang buang waktu lagi kami pun
langsung menuju tempat pendaftaran. Kami menyerahkan semua persyaratannya, lalu
di test langsung setelah itu. Aku kaget karena Rani tidak bilang kalau langsung
test.
“Wahhh… Ran… Kamu
gimana sih, kok tidak bilang-bilang kalau langsung test.” Dengan nada kesal,
tapi dengan entengnya Rani bilang. “Maaf Dhan.. Lupa.. saking semangatnya aku
jadi lupa deh.. hihihi..” sambil tersenyum Rani membodohiku. Tapi biarlah,
selama ku masih bisa melihat senyum Rani ku tak apalah.
Akhirnya test ujian
masuk pun dimulai. Aku mengerjakan sebisa ku, bisa lolos apa tidak aku tak
peduli. Sambil kulihat wajah serius Rani yang sedang mengerjakan test di
sebelahku, ku jadi merasa bersalah. Akhirnya ku mencoba mengerjakannya dengan
serius juga.
Test selesai dan kami
pun kembali ke rumah, pengumuman lolos apa tidaknya akan di umumkan seminggu
kemudian. Selama seminggu itu aku hanya bisa di rumah saja. Tak mau kemana
mana, karena saat ku teringat kejadian itu kepalaku terasa sakit. Dan pastinya
Rani selalu mengunjungiku di rumah untuk menemaniku. Mulai berbicara konyol,
belajar memasak, bersih bersih, pokoknya tidak ada diamnya sedikitpun kalau ada
Rani di rumah. Mungkin dia memcoba untuk mengalihkan pemikiranku tentang
kecelakaan itu dengan kesibukan. Tapi memang itu berhasil membuatku
melupakannya sejenak.
Hari pengumuman pun
tiba, kami pun segera menuju kesana. Sesampainya disana, kami mencoba mencari
cari nama kami. Setelah beberapa lama mencari, akhirnya nama Rani ada dalam
pengumuman itu, dinyatakan diterima. Tapi dia belum merasa senang, ku tak tahu
kenapa. Rani terus mencari cari, cukup lama dan akhirnya apa yang dicari
ketemu, yaitu nama ku.
“Yeyyyy.. kita bisa
masuk kampus yang sama yey…” Sorak Rani kegirangan. Akhirnya terjawab sudah
kenapa dia tidak senang melihat namanya lolos, tapi setelah melihat nama ku
lolos juga barulah dia senang. Dia hanya ingin kuliah bersamaku. Itu
pemikiranku. Senyum manis Rani membuat ku berbahagia juga.
Kami mencoba
merayakannya, walau kecil kecilan. Cuma beli Es Cream dan beberapa snack untuk
di makan di rumah ku. Yah cukup meriah juga sih, dengan kehebohan Rani hingga
malam pun tiba. Saatnya untuk Rani pulang ke rumah untuk memberitahu kepada
keluarganya.
Ku pun sendiri lagi di
rumah, memikirkan semua yang terjadi hari ini. Ku pikir cukup menyenagkan juga,
ku ingin terus merasakannya. Tapi saat itu juga ku kembali mengingat masa itu,
dimana kecelakaan itu terjadi. Menghancurkan semua rasa bahagia hari ini
menjadi suram.
Setiap hari seperti
itu, pagi yang menyenangkan dan malam yang menyedihkan. Kenapa, karena di pagi
hari ku bisa melihat senyum bahagia Rani, saat di kampus atau di manapun. Saat
itu kami sudah memasuki perkuliahan, setelah pulang kuliah kamu main dulu terus
pulang ke rumah. Dan saat itulah malam menyedihkan itu datang.
25 Agustus 2011.
3 tahun berlalu, Terus
seperti itu hingga ku sudah menginjak semester 6. Tapi malam menyedihkan itu
sudah bisa ku hilangkankan dan menjadikannya hal positif. Karena ku melihat
Rani yang selalu bahagia, yang selalu perhatian, bagaikan cahaya yang selalu
bersinar walau dalam kegelapan. Dialah cahaya hidup ku, Rani.
Timbul rasa cinta dalam
hati ini, karena sekian lama ini kami hanya seperti sahabat. Tapi ku ingin
lebih dari sahabat dan memilikinya seutuhnya, karena sudah tak bisa lagi ku
bendung rasa ini. Nanti pas wisuda aku akan mengungkapkannya padanya. “Pasti…”
kata ku lirih sambil mengejar Rani yang berlari menuju kampus.
15 Agustus 2012.
Hingga saat itu pun
tiba, dimana para mahasiswa mahasiswi akan di wisuda. Melakukan upacara
perpisahan di sebuah gedung milik kampus sendiri. Kulihat Ayah dan Ibu Rani di
bangku orangtua, kunya bisa tersenyum melihatnya. Mencoba berandai andai.
“Andai saja keluargaku
juga ada disini, pasti lengkaplah kebahagiaan ini..” kataku lirih sambil
menunggu untuk pelepasan. Sayang semua itu tak mungkin terjadi. Setidaknya ku
masih memiliki Rani yang selalu ada untuk ku. Hari ini aku ingin
mengungkapkannya semua perasaanku selama ini.
Wisuda pun berakhir
mengharukan, semuanya berpelukan dengan keluarganya masing-masing sedangkan aku
tak ada yang bisa ku peluk. Tapi tiba-tiba dari belakang ada yang memelukku
erat, yaitu Rani. Ku ingat pertama kali Rani memelukku, ya saat ku mulai
bangkit dari keterpurukan. Aku pun sekarang bisa tersenyum lega dan segera ku
melihat ke arah Rani memelukku.
“Selamat ya Dhan.. Kau
sudah menjalani hidup dengan sebaik baiknya. Tak kamu sia-siakan hidup ini.
Sekarang ku sudah tenang, dan sekaligus bahagia sekali melihat kamu tersenyum
kembali seperti ini.” Kata Rani dan mencium pipi ku. Aku tak mengerti apa
maksud dari perkataan Rani tadi, tapi yang ku pikir saat ini adalah Rani
mungkin juga mencintaiku.
“Ya Tuhan, Sang
Pencipta Alam semesta beserta isinya. Tolong jagalah senyum dia yang selalu ada
di hidupku, yang selalu menjadi cahaya hidup ku dan selalu menjadi penerang
jalan ku.” Doa ku dalam hati.
“Dhan… Dhani.. ayo
cepet sini, kita rayain kelulusan ini bersama kluargaku, ayo!” Ajak Rani
memintaku untuk segera masuk ke mobil Ayah Rani. Dan ku pun masuk bersama Rani
di sampingku. Hari itu sudah mulai menjelang malam sekitar jam 18.00. Cuaca
cerah hari yang bagus untuk merayakannya.
Mobil mulai dinyalakan,
lalu melaju perlahan. Ku mulai jadi teringat waktu itu. Dimana kejadian yang
sama di masa lalu. Kelulusan, Perayaan dan Tragedi. Tapi ku mencoba membuang
jauh pikiran itu, ku coba untuk positif thingking, karena ku tak ingin
kehilangan senyum mereka, terutama Rani.
“Kita mau kemana Ran?.”
Tanyaku pada Rani.
“Kita akan merayakan
kelulusan kita, di restoran tengah kota..” Rani mejawabnya dengan senyum di
wajahnya. Sungguh indah kurasa hari ini. Semua terasa begitu membahagiakan tapi
masih sedikit was was takut kejadian masa lalu terulang kembali.
Di perjalanan ku terus
berdoa agar tak terjadi apa-apa. Hingga sampai tempat tujuan dan tak terjadi
apa-apa, Ku sangat senang dan bersyukur akan hal itu. Kami pun menuju meja yang
sudah di pesan sebelumnya, segera setelah itu pelayan datang dan memberikan
pesan kami yang memang sudah di pesan sebelumnya.
Sungguh haru sekali
suasananya, lagi-lagi ku berandai andai, “Andai saja saat ini ku bersama
keluarga ku pasti sangat menyenangkan..” gumamku dalam hati. Setidaknya saat
ini ku bisa merasakan indahnya merayakan kelulusan dan hari ultahku juga yang
ke 22. Aku sampai lupa kalau hari ini adalah hari ultah ku. Karena ku sungguh
bahagia dengan semua ini.
“Dhan, ini kado
dariku.. coba di buka deh..!” kotak kecil di ikat dengan pita yang indah dari
Rani, lalu kubuka dan ternyata sebuah jam tangan yang tertuliskan nama ku dan
nama Rani. Ku sangat terkejut melihatnya.
Belum sempat ku
bertemakasih atas pemberiannya, Rani lagi-lagi mengejutkannku. Dia mencium pipi
ku sekali lagi. Tawa dan canda Om Budi dan Tante membuat ku tak bisa berkata
apapun. Hingga menetes air mataku jatuh tak terbendung.
“Terimakasih Om, Tante
dan kamu Rani.”. dan tak bisa berkata-kata lagi. Malam ini benar-benar menjadi
pengalaman yang tak akan pernah kulupakan. Hingga ku lupa ingin mengungkapkan
perasaanku itu.
Terlambat, kami sudah
bersiap untuk pulang. Karena waktu sudah larut malam. Kami pun segera masuk ke
mobil dan kembali ke rumah.
“Tak apalah, masih ada
hari esok untuk mengungkapkannya pada Rani, setidaknya hari ini sudah lebih
dari cukup untuk ku, untuk hidup ku ini, yang sebelumnya tertunda untuk
kurasakan.” Gumamku dalam hati.
Tapi takdir lagi-lagi
tak berpihak padaku, seakan alam semesta memusuhiku, tak terima akan
kebahagiaan yang kau terima malam ini. Di pertengahan jalam menuju rumah, mobil
yang dikendarai Om Budi slip dan menabrak mobil lain. Kecelakaan.
Om dan Tante ku lihat
penuh dengan darah, sama seperti kejadian waktu itu. Ku bingung harus bagai
mana, karena tengah malam, penyelamatan pun jadi sedikit lama. Sepi tak ada
orang, yang ada hanya 2 mobil yang sudah rusak parah dengan manusia di dalamnya
yang lagi sekarat.
Tiba-tiba kudengar
suara lirih, dan ternya Rani yang masih sadar, tapi terlihar sudah pucat
sekali. “Dhan.. terimakasih untuk selama ini ya Dhan.. Ku tak pernah menyesali
apa yang terjadi sekarang ini, Karena ku sudah cukup bahagia hidup di dunia
ini, mengenalmu, menjalani hari-hari dengan mu, semua sungguh menyenangkan..
Uhuk..” mulut Rani mengeluarkan darah, tapi Rani masih ingin berbicara pada ku.
“Rani.. Rani.. sudah
cukup bertahan lah aku akan mencoba menyelamatkanmu.. bertahanlah..” mencoba
untuk menenangkan Rani dan menyelamatkannya, tapi semua itu sia-sia, aku dan
Rani masih dalam mobil. Ku coba menggedor pintu dari mobil yang terbalik ini
dengan sisa-sisa tenagaku, tapi itu belum cukup untuk bisa membukanya.
“Dhan.. aku mau kamu
terus hidup, terus melanjutkan kebahagiaan ini, untuk ku. Aku akan sedih jika kau
menyianyiakan hidupmu seperti dulu. Hiduplah untuk aku. Aku mencinta.. i.. mu..
Dhani..” kata-kata terakhir terucap di mulut Rani. Segera setelah itu tim
penyelamat baru datang dan mencoba untuk menyelamatkan semuanya.
Aku kembali masuk rumah
sakit dan koma selama beberapa hari, lebih lama dari koma ku yang dulu.
15 Agustus 2014, 2
tahun setelah kejadian itu.
Ku berjalan dan terus
berjalan menuju tempat yang sangat penting bagi ku, yaitu makam. Ku lihat 6
batu nisan berderet di depan ku, berfikir kenapa aku tak jadi salah satu dari
mereka juga.
Makam Ayah, Ibu,
Adikku, Om, Tante dan Rani. Semua orang yang sangat ku sayangi dan sangat
menyayangiku. Setelah keluar dari rumah sakit saat itu, ke berencana untuk
menyusul mereka. Tapi kata-kata Rani mengingatkanku untuk terus hidup untuknya
dan untuk orang yang dicintainya.
Sekarang ku hanya bisa
mengenang mereka dan menjalani sebaik baiknya hidup seperti yang dikatakan
Rani. Rani memang sudah tiada di dunia ini, tapi dia masih ada di hati ku tetap
hidup dalam ingatan ku. Menjadi cahaya hidupku selama akhir hayat ku.
Hidup memang terlihat
tak adil, tapi itulah hidup. Penuh dengan lika liku kehidupan, terkadang sedih
susah dan menderita, terkadang senang dan bahagia. Sesulit apaun hidup itu
sendiri, tetap lanjutkanlah, karena hari esok siapa yang tahu.
Cerpen Karangan:
Ramadhani Azhari
PUISI
BERSYUKUR
Oleh Carolina Riflina Adak
Terlahir dan menjalani hari
Adalah jalan manusia di bumi
Terkadang ada yang hendak berbalik
Protes akan sang Pencipta
Mengapa aku begini?
Adalah wajib diutarakan bagi yang tak terima
Hawa nafsu duniawi nyatanya tlah merajai
Hingga suara hati terbungkam olehnya
Rasa syukur berganti segala keinginan
Yang jelas tak abadi
Tak mampu lagi melihat karya agung
Manusia adalah istimewa
Tiap hal pastilah terdapat hikmah
Yang kan terpetik jika kau tau bersyukur!
Oleh Carolina Riflina Adak
Terlahir dan menjalani hari
Adalah jalan manusia di bumi
Terkadang ada yang hendak berbalik
Protes akan sang Pencipta
Mengapa aku begini?
Adalah wajib diutarakan bagi yang tak terima
Hawa nafsu duniawi nyatanya tlah merajai
Hingga suara hati terbungkam olehnya
Rasa syukur berganti segala keinginan
Yang jelas tak abadi
Tak mampu lagi melihat karya agung
Manusia adalah istimewa
Tiap hal pastilah terdapat hikmah
Yang kan terpetik jika kau tau bersyukur!
Label:
Karya dan Karangan
1 komentar